Aku
telah selesai membaca roman keempat
Tentang
Purnama yang selalu menyahut dahaga
Juga
dalam kehidupan beku
Meski
musimmusim menemukan cemas
Dalam
lembaran itu
Ketika
Purnama menjelma wangi cendana,
Perjumpaan
kita selalu menjadi helaihelai
Yang
masih segar untuk bercumbu
Dalam hangat kepalku
Pun
sungai – sungai membutaku tak sungkan
Walau sekejap
Aku
masih ingin rebah di rindumu
Atau
dalam ucap doadoa cinta
Untuk
gelisah yang semakin ganjil.
Di
sudut kota setelah purnama,
Masih
tersisa jarak waktu
Yang
menitipakn runcing hujan
Namun
kasih tak selalu memutih
Tak
selalu
Lalu
sepi menjelmakan lagi
Sesal
diri yang menjadi bayang
Di
bawah sisa sinar purnama
Mempersempit
segala ingkar
Kemudian
tetap menunggu
Sampai
purnama musim depan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar