Kemelut
orde baru banyak menuai polemik. Masa tersebut merupakan pergulatan rakyat
terhadap kaum elit yang mencekik. Berbagai peristiwa dramatis itu rupanya melahirkan
aktor yang menjadi penggerak sepenanggungannya, “Wiji Thukul” salah
satunya. Karakteristik Wiji Thukul memengaruhi pergerakan dari kalangan rakyat
bawah di dalam pertentangan melawan ketidakadilan. Sosok Wiji Widodo, atau yang
akrab kita kenal Wiji Thukul merupakan
sastrawan pada masa orde baru. Beliau kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 tersebut, mulai menulis puisi sejak SD.
Wiji Thukul tertarik pada dunia teater pada saat Beliau belajar di SMP pada
tahun 1979, Beliau bergabung dalam Teater Jagat (Jagalan Tengah). Beliau yang berlatar belakang keluarga
buruh dan tukang becak bersama
kawan-kawan dari Teater Jagat sering keluar masuk kampung mengamen dan membaca
puisi dengan iringan berbagai instrumen musik tradisional seperti rebana, gong,
suling, kentongan, gitar dan sebagainya. Mereka mengamen tidak hanya di Solo
tapi juga di Yogyakarta, Klaten, Bandung hingga Surabaya. Lalu beliau melanjutkan
pendidikannya di SMKI
(Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari. Namun, karena keterbatasan
biaya Wiji Thukul berhenti pada saat duduk di kelas 2. Sebagai anak sulung dari
tiga bersaudara, ia memiliki tanggung jawab untuk membantu menghidupi keluarga.
Melangkahlah ia mencari penghasilan dengan cara menjual koran, lalu bekerja di
sebuah perusahaan mebel antik menjadi tukang pelitur. Ketika bekerja sebagai
tukang pelitur, Wiji Thukul mulai membuat puisi dan membacakan karyanya di hadapan
rekan kerjanya. Pada tahun 1988 Wiji Thukul pernah menjadi wartawan masa kini.
Puisi-puisinya diterbitkan dalam media cetak dalam dan luar negeri. Pada
tanggal 23 Oktober 1988 Wiji Thukul menikah dengan Sipon rekannya di teater
jagat dan dikaruniai dua orang anak, Hitri Nganthi Wani dan Fajar Merah.
Pertikaian
di mulai saat Widji Thukul membela kaum
tertindas pada tahun 1992 dalam
demonstrasi memrotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna
Asli Solo. Pada tahun berikutnya, tahun 1994 Widji Thukul bersama Semsar Siahaan
dan Moelyono mendirikan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Menurut Widji
Thukul perjuangan politik untuk melawan kediktatoran Soeharto membutuhkan
sebuah wadah politik untuk menyatukan kekuatan demokrasi dan merumuskan program
bersama. Bagi Thukul “Demokrasi tidak dapat diraih hanya dengan baca puisi,
tapi dengan aksi-aksi massa bersama rakyat.” Karena itu, tidak seperti seniman
produk Orba yang alergi politik, Thukul justru sangat terlibat aktif dalam
perjuangan politik. Untuk menyatukan gerakan dan membuat program bersama lalu
memutuskan untuk membentuk suatu organisasi payung yang bernama Persatuan
Rakyat Demokratik (PRD).
Hidup di lingkungan buruh membuat Widji Thukul sangat respek dan
mendukung perlawanan-perlawanan buruh. Pada bulan Oktober 1994, di Ambarawa,
Jawa Tengah, Wiji Thukul menghadiri Kongres pembentukan Pusat Perjuangan Buruh
Indonesia (PPBI). Dalam Kongres tersebut ia berbicara tentang pentingnya budaya
progresif kerakyatan untuk mengikis sisa-sisa feodal dan membangun kesadaran
yang progresif. Demi mendukung aksi 14.000 buruh PT Sritex, ia ditangkap dan
dipukuli dengan popor senapan. Mata kirinya terkena popor dan berdarah dan
mengalami kebutaan.
Pada bulan April tahun 1996 ia hadir dalam Kongres pembentukan
Partai Rakyat Demokratik yang diadakan di Kaliurang, Yogyakarta. Dalam Kongres
tersebut juga diambil suatu keputusan organisasi yang penting dimana Jakker,
bersama-sama dengan SMID, PPBI dan STN berafiliasi secara organisasi dan
politik dengan Partai Rakyat Demokratik. Dalam Deklarasi Partai Rakyat
Demokratik (PRD) 22 Juli 1996, Wiji Thukul membacakan puisinya yang berjudul
“peringatan”. Penampilan itu merupakan pembacaan puisi terakhir Wiji Thukul
secara terbuka, setelah itu Jakker dijadikan sebagai organisasi terlarang (OT)
dan dia sebagai ketuanya menjadi target penangkapan. Setelah para pimpinan PRD
ditangkapi dan organisasinya dilarang, mereka bergerak di bawah tanah. Tetapi,
Puisi-puisi Thukul masih sempat muncul di majalah bawah tanah PRD Pembebasan
dan disebarluaskan melalui internet dan fotokopi-an. Meskipun Widji Thukul
tidak terlihat lagi, bait puisinya yang berjudul Peringatan yaitu “hanya ada
satu kata, lawan” terus diteriakan dalam berbagai aksi mahasiswa di berbagai
kota.
Karya Widji Thukul banyak diapresiasi oleh
Negara lain, diantaranya:
1.
Widji Thukul diundang membaca puisi di
Kedutaan besar Jerman Jakarta oleh Goethe Institut tahun 1989,
2.
Mengikuti
“3rd Asia-Pacific Trainer’s Workshop on Cultural Action” di Korea Selatan pada
tahun 1990,
3.
tampil
ngamen puisi pada pasar malam puisi di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda,
Jakarta pada than 1991.
- Memperoleh Wertheim Encourage Award dari Wertheim Stichting,
Belanda, bersama budayawan WS Rendra di tahun 1991.
- Pada tahun 1992, ia membacakan sajak di beberapa kota di
Australia dan dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien Award tahun 2002.
Demikian sosok Wiji Thukul
mendapat penghargaan dari negara luar. Namun, di tanah pertiwinya sendiri malah
tak digubris. Sungguh disayangkan bunga yang dilumpuhkan di bumi sendiri. Bunga
yang tak dikehendaki adanya. Perjuangan yang dilumpuhkan oleh orang – orang
pengempu kekuasaan. Ironis. Bila saat ini Wiji Thukul masih bernafas, pasti iya
akan menyerukan satu kata : LAWAN !