Sabtu, 25 Mei 2013
Perempuan Berwangi Cendana
Tidak
kutemukan kecemasan disetiap senyum
Dan
di sudut mungil tubuh langsat itu
Dalam
dalam angin menerbangkan wangi cendana
Dari
bahasamu
Mungkin
ini pertemuan kesekian
Setelah
aku puas mengeja syairsyairmu
Kemudian
perahu kertas yang kau simpan rapi
Dalam
dongengdongeng tetap menjadi rasa
Abdi yang mengucapkan segala mimpi
Tetap lahir
Telah
kukemas suara semalam
untuk
mendekat diamdiam
begitupula
catatan rindu tak sempat aku tulis
hanya
demi menghirup wangi yang sederhana
Biarlah
senjasenja terlewati begitu saja
Aku
tetap hanya ingin memberitahu
Segala
pesona yang melekuk warna satu
Dalam
hitam putih : angun
Kemudian
demi mata merpati itu
Kuyakin
segala lelaki pasti menyahut
Cinta
yang disebar dalam penungguan.
Maka
angin saling menyilangkan ingatan
Untuk kita meneguk secangkir kopi
Bersama
Setelah Purnama
Aku
telah selesai membaca roman keempat
Tentang
Purnama yang selalu menyahut dahaga
Juga
dalam kehidupan beku
Meski
musimmusim menemukan cemas
Dalam
lembaran itu
Ketika
Purnama menjelma wangi cendana,
Perjumpaan
kita selalu menjadi helaihelai
Yang
masih segar untuk bercumbu
Dalam hangat kepalku
Pun
sungai – sungai membutaku tak sungkan
Walau sekejap
Aku
masih ingin rebah di rindumu
Atau
dalam ucap doadoa cinta
Untuk
gelisah yang semakin ganjil.
Di
sudut kota setelah purnama,
Masih
tersisa jarak waktu
Yang
menitipakn runcing hujan
Namun
kasih tak selalu memutih
Tak
selalu
Lalu
sepi menjelmakan lagi
Sesal
diri yang menjadi bayang
Di
bawah sisa sinar purnama
Mempersempit
segala ingkar
Kemudian
tetap menunggu
Sampai
purnama musim depan
Kembang Kertas
Rinduku
belum tuntas. Mencium
Tipis
warna Kembang Kertas
Wangi
itu tertahan angin bulan Mei
Yang selalu melekatkan debu
Sudah
ada hujan untuk melumatkan segarnya
--diam
tak bersuara jernih
Aku
terbangkan putik keriputnya. Menerjemahkan
Waktu
yang sia – sia lahir
Demi
sebuah duka tanpa tahu jalan kembali.
Setelah
pedang mengepung duridurinya
Dan
sejak mimpi mengutuknya tak bergumam
Cahaya
selalu gemetar : dalam dingin rasa
Siapakah
yang menyapu kelopak lelahmu?
Malam
kah?
Aku
yakin bulan pun tak sepaham. Bila
Bintang
selalu mengunjungi potongan ceritamu.
Seperti
siang – siang lelah
Menguji
sejauh mana
Kau
menyalakan tangis beku
Ah,
kau hanya tak berani meluncurkan airmata
Belum
lengkap diam itu
Memeluk
cintamu yang tertahan
Untuk kumbang mata merah
Pun
sebuah perpisahan kepada gelumbang embun
di
setiap subuh
Kemudian
rumah terkahir tak cukup
Menyentuh
tiga kelopakmu
Yang
lemas dan selalu terbawa angin musim
Sampai
jingga menyambut malam
Barulah
pucuk memadu rindu
Dan lagilagi kau tak pernah tahu
Rindu Purnama
Rindu yang masih dini
Senyap untuk diceritakan
Sebab, hujan masih melekat pada jendela
ruang belajar kita
Yang belum sempat
Menyaksikan pucuk ranting
mengantuk, juga
tak dapat ia saksikan pohon kaktus
melahirkan duri
Kemudian hujan reda
Tanpa pamit
Barangkali ia malu dengan angin
yang ia sapa
Ketika bangau bertedug dan katak tanah
- hanya bernyanyi
Akhirnya hujan membawa rindu singkat
Si pucuk ranting yang kesepian
Begitu pula asmara katak tanah kepada bangau
pun rinduku yang masih sunyi
datanglah kembali
pada purnama ke sembilan
agar bundar, sempurna
Senyap untuk diceritakan
Sebab, hujan masih melekat pada jendela
ruang belajar kita
Yang belum sempat
Menyaksikan pucuk ranting
mengantuk, juga
tak dapat ia saksikan pohon kaktus
melahirkan duri
Kemudian hujan reda
Tanpa pamit
Barangkali ia malu dengan angin
yang ia sapa
Ketika bangau bertedug dan katak tanah
- hanya bernyanyi
Akhirnya hujan membawa rindu singkat
Si pucuk ranting yang kesepian
Begitu pula asmara katak tanah kepada bangau
pun rinduku yang masih sunyi
datanglah kembali
pada purnama ke sembilan
agar bundar, sempurna
Semua Sibuk !
Malam ini, seorang teman bertanya padaku "Lan, aku merasa kamu mencari aku dan Putri (temanku lagi) di saat susah saja. Aku ngerasa gitu." Begitulah pesan singkatnya padaku. Yah walau takku ketahui pasti bagaimana ekspresinya, tapi dari susunan katanya terlihat dia begitu kecewa. Oke tangguhkah dulu komentar pedas teman saya.
Susah. Begitulah orang - orang menyebutnya. Susah tak berarti apa tanpa gelisah. Gelisah sahsah sajalah ya.. bagi mereka yang tak memiliki kebahagiaan. Baiklah saya pertegas lagi, yang "TAK MEMILIKI KEBAHAGIAAN" - tiga kata kasar bagi si pecinta kedamaian. Ah.. aku selalu berpikir bahwa kebahgiaan hanya untuk orang yang sudah mendapatkan tujuan hidupnya. Semisal sudah punya pacar. Lah aku? hanya jomblo blusukan yang selalu menjadi orang ketiga. Syukur orang ketiga, bukan ke 9 #eh. Hahhaa.. kembali lagi. Menurut kalian apa bahagia itu? aku sangat bahagia ketika memiliki samsung galaxy tab 2. Aku bahagia saat membeli kfc di Singaraja. Dan aku bahagia ketika aku bisa tertawa. Sederhana.
Bahagia itu sederhana. Tapi tak bisa sesederhana kita memaknai kata "Bahagia" itu. Bahagia untuk sebagian orang adalah halhal yang sangat fenomenal. Bahkan airmata turut berpartisipasi merayakannya. Kalau begitu sama saja dengan gelisah. Hal yang dikatakan gelisah itu sampai airmata turut termehekmehek. Kesimpulan, bahagia itu sesederhana gelisah. Sesederhana mengeluarkan airmata.
Aku tak pengerti dengan kata temanku (yang lain) dia selalu menjugde "Kamu selalu sibuk" oke aku sibuk. Tapi kita perlu telaah secara mendalam. Aku melakukan kegiatan seperti mahasiswa pada umumnya. Dan aku mulai tahu cara menyibukan diri, ah msdku cara agar "merasa sibuk" dan "merasa senang". Aku sudah berusaha membagi waktu untuk teman, keluarga dan galaugalauku. Tetap saja tak sebanding. Eh tapitapi sibuk pasti ada sebabnya kan?
Oke mereka menjugde bgtu. Tak apa. Tapi? setiap aku sudah meluangkan waktu.. mereka kemna? ah.. rupanya mereka juga sibuk. Jadi? - semua sibuk !
akh! semua sibuk.
terus? bagaimana gelisahku?
mereka hanya tidak menyadari, akupun juga dicari dalam keadaan begitu. Karena dalam keadaan itulah aku bisa mencari alasan untuk bertemu mereka. Just it :)
Susah. Begitulah orang - orang menyebutnya. Susah tak berarti apa tanpa gelisah. Gelisah sahsah sajalah ya.. bagi mereka yang tak memiliki kebahagiaan. Baiklah saya pertegas lagi, yang "TAK MEMILIKI KEBAHAGIAAN" - tiga kata kasar bagi si pecinta kedamaian. Ah.. aku selalu berpikir bahwa kebahgiaan hanya untuk orang yang sudah mendapatkan tujuan hidupnya. Semisal sudah punya pacar. Lah aku? hanya jomblo blusukan yang selalu menjadi orang ketiga. Syukur orang ketiga, bukan ke 9 #eh. Hahhaa.. kembali lagi. Menurut kalian apa bahagia itu? aku sangat bahagia ketika memiliki samsung galaxy tab 2. Aku bahagia saat membeli kfc di Singaraja. Dan aku bahagia ketika aku bisa tertawa. Sederhana.
Bahagia itu sederhana. Tapi tak bisa sesederhana kita memaknai kata "Bahagia" itu. Bahagia untuk sebagian orang adalah halhal yang sangat fenomenal. Bahkan airmata turut berpartisipasi merayakannya. Kalau begitu sama saja dengan gelisah. Hal yang dikatakan gelisah itu sampai airmata turut termehekmehek. Kesimpulan, bahagia itu sesederhana gelisah. Sesederhana mengeluarkan airmata.
Aku tak pengerti dengan kata temanku (yang lain) dia selalu menjugde "Kamu selalu sibuk" oke aku sibuk. Tapi kita perlu telaah secara mendalam. Aku melakukan kegiatan seperti mahasiswa pada umumnya. Dan aku mulai tahu cara menyibukan diri, ah msdku cara agar "merasa sibuk" dan "merasa senang". Aku sudah berusaha membagi waktu untuk teman, keluarga dan galaugalauku. Tetap saja tak sebanding. Eh tapitapi sibuk pasti ada sebabnya kan?
Oke mereka menjugde bgtu. Tak apa. Tapi? setiap aku sudah meluangkan waktu.. mereka kemna? ah.. rupanya mereka juga sibuk. Jadi? - semua sibuk !
akh! semua sibuk.
terus? bagaimana gelisahku?
mereka hanya tidak menyadari, akupun juga dicari dalam keadaan begitu. Karena dalam keadaan itulah aku bisa mencari alasan untuk bertemu mereka. Just it :)
Jumat, 17 Mei 2013
Ring Sandykala
Tan
kodag – kodag
Ngadungan
kandang
Mapantig
Ngilehin
liang
Sane
buyar, sarwa bojog
Pejah
ring margi badeng
Ring
Sandyakala
Pakeweh
nyurnyur manis
Pada
melengis
Ngelanturang
bebedag
lan dedalu lampah
sarwa
kapah
Sarwa
peteng
Meseh
anteng
Jagi
ngelungsur liang
Mapajeng
Jegjeg
(
Wulan Dewi Saraswati )
Langganan:
Postingan (Atom)