Pada
setiap reruntuhan, aku mengepung rindu
Walau
musim tak bertuan
Masih
tersisa jejak yang belum tergerus
Setelah
kulihat jendela – jendela dipinggir jalan
Mengajak
menikmati plesiran orang
yang hendak menuju pasar
Sangat
pucat warnanya
Sebab
angin selalu ingin mengantar debu
untuk
melekat disetiap celah
rongga
jendela
Di
jendela itu
Rasa
menjadi ajal
Siapakah
gerangan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar