Rabu, 17 Desember 2014

bagaimana cara Tuhan bekerja untuk kita?

ini semua hadiah Tuhan. bukan atas usahaku, melainkan usahaNya memberiku hadiah. Tuhan yang aku kenal tidak begitu dekat dengan susah payah, peluh keringat, meyakiniku bahwa Ia sayang dan peduli. hadiah ini mungkin tanda kasih Tuhan, atas ketidakmampuanku menghafal mantram sesuatu berdoa. hah, Tuhan yang kini aku kenal begitu adil, bijak, dan selalu ada saat yang tepat (saat saya keserempet deadline). Mungkin Tuhanku, Tuhanmu, sedang berdiskusi bagaimana mereka memberimu kejutan di luar batas usaha. Yah, mencintai Tuhan tidak perlu berlebih. cukup kasih tulus yang paling jujur.

selamat Tuhan, saya telah kembali, ke jalan yang Kau sebut kehidupan.

life is about respect your self to healthy and happy !


Minggu, 14 Desember 2014

hidup dan puisi

jangan sampai aku hanya hidup dalam puisimu
dalam kenangan yang dilumat kata-kata
sedang dalam nyata
kau pura-pura ada

jangan sampai aku hanya hidup dalam kemungkinan
dalam setiap hitungan yang diikat rumus mimpi
sedang sejujurnya
kau benar-benar tidak peduli apa

pura-pura hanya untuk rasa cemburu
hanya untuk main petak umpet


sedangkan kau selalu menghidupi puisiku
selalu jadi metafora dan pragmatik
dalam himpunan batinku
hingga seluruh cinta lahir
jadi puisi-puisi yang siap disantap penyair tua
menebak bagaimana cinta kita berkerja
menerka kebenaran puisi
dan menuduh kita adalah cinta yang tidak mungkin

yaya. tidak mungkin.
ini semacam mimpi saja. toh siapa peduli dengan usia cinta, kalau akhirnya hanya "memang begitu"

empat belas

hari ini empat belas, bukan begitu?

dan aku (mungkin tidak sengaja) mengingatmu, tepat saat empat belas terakhir di tahun 2014
apa kabar? kapan aku dapat sepucuk surat lagi? masihkah Mei milik kita?

kau begitu cepat lepas dari rinduku
mungkin ini tahun kesekian kau meninggalkanku
jadi sudah terbiasa, aku sudah terbiasa (mungkin tidak snegaja) mengingatmu
walau (kadang) rindu

setiap tanggal empat belas, selalu saja
ada yang berbeda
istimewa

siapa peduli dengan empat belas? kalau besok adalah tahun baru dan kita mulai lagi mencari tahu di mesin google, akun fb, twitter, instagram, line, bbm, atau no tlpn (yang selalu rahasia), tentang kerinduan.

mungkin saja kita membuka serambi hati
ada kenangan yang tertinggal di bibirmu,
mungkin kecupanku yang terakhir
yang waktu itu sepucuk mawar putih
untuk menebus air matamu

siapa peduli? kecuali kita yang selalu menepati kenangan?
entahlah, aku hanya ingin lelah memikirkan kata cinta
soal cinta yang lebih rumit dari sintaksis

yah, mungkin nanti
di meja kerjaku, di suatu sudut kota, di perbatasan desa, di seberang benua,
kau akan mengirim surel atau apalah sejenisnya di masa datang
untuk menagih janjiku, datang ke pesta penuh darah dewa

yah, mungkin nanti
aku datang, saat aku siap menikmati bahagiamu
di sajikan di depan leluhur
yang selalu berdarah memikirkan penerusnya


aku (mungkin tidak sengaja) masih rindu,
walau tidak cinta (seperti dulu)

sepatu hak tinggi

Give me time, and I'll give you a revolution - Alexander McQueen


It sounds like a cliche but I also learnt that you're not going to fall for the right person until you really love yourself and feel good about how you are


Ketika cinta hanya la la la

ketika cinta terhalang kasta
ketika cinta terhalang harta
ketika cinta terhalang orangtua
ketika cinta terhalang gelar sarjana
ketika cinta hanya la la la

maka perlukah kita memberi nama untuk cinta?
bila cinta hanya butuh percaya?
dan kita akan terbiasa
untuk mengucapkan cinta
dalam doa
agar cinta kita
tak terhalang mereka
bahkan Tuhan diam-diam menyetujuinya

itulah cinta
yang hanya la la la 

Sabtu, 13 Desember 2014

ini minggu

minggu adalah puisi



dan kamu
di sisinya

Hanya Aku

Hanya aku yang berdoa
            Semoga esok selalu rindu
agar tidak semua tahu
berapa usia pertemuan kita
yang luruh ditelan rahasia
sembunyi dari nama-nama Tuhan

Hanya aku yang meminta
            Semoga hujan selalu merdu
seperti debar jantungmu
saat kupeluk cinta yang tak akan basi
dari puisi

Kusiapkan pula rindu-rindu yang lain
Untuk kita bagi, di tahun baru nanti
Saat semua tengah pesta
Kita sibuk bercinta

Atau hanya aku yang lupa
Kalau kita belum bernama?


Bali Post, Minggu, 14 Desember 2014
Bahkan lapar jadi penawar rindu. Maka bahagialah. Setiap lapar punya rindunya, punya bahagianya. Kalau saja cinta adalah sajian, tentu tidak perlu lapar. Tapi tak ada bahagia tanpa air mata, tak ada cinta tanpa lapar. Maka, pupuklah lapar agar cinta dapat kau santap melebihi rindumu yang kian melaut.
Tidak ada kesulitan tanpa lapar. Caramu merasakan lapar jadi cermin kesulitan. Maka lapar adalah tahap bertahan hidup atau menyerah pada diri sendiri. Semenjak manusia mengenal makanan, saat itu pula lapar tidak jadi persoalaan. Tapi kesulitan tak pernah mati, ia hanya berpindah dari perut ke kepala. Oleh sebab itu, wajar kepala-kepala itu kelaparan karena tidak pernah makan.

Rabu, 10 Desember 2014

Menunggu Crestfallen


Dari matamu terurai kelopak mawar
            putih tua
yang melepas wangi hutan
sebelum nafas menjadi benang pagi
untuk beberapa kumbang

di halaman, rambut ikalmu
menjadi layang layang
yang asik kau mainkan sendiri
tak peduli membangunkan ulat merah
atau semut injin
jika sewaktu waktu layangan itu lelah,
dengan rela kau mencuri angin
menjadikan sejuk kembali

begitulah penantian,
adalah dongeng
kelak, kau gugurkan lagi matahari
dari rahim yang menjerat warnamu
menjadi permata dalam darah
yang semakin teduh

Selasa, 09 Desember 2014

Kemapanan Komuitas Teater

Membaca teater di Bali tidak melulu mengeluh tentang hal yang negative. Membaca teater di Bali perlu melihat positifnya, tidak hanya mengeluh.