Rabu, 10 Desember 2014

Menunggu Crestfallen


Dari matamu terurai kelopak mawar
            putih tua
yang melepas wangi hutan
sebelum nafas menjadi benang pagi
untuk beberapa kumbang

di halaman, rambut ikalmu
menjadi layang layang
yang asik kau mainkan sendiri
tak peduli membangunkan ulat merah
atau semut injin
jika sewaktu waktu layangan itu lelah,
dengan rela kau mencuri angin
menjadikan sejuk kembali

begitulah penantian,
adalah dongeng
kelak, kau gugurkan lagi matahari
dari rahim yang menjerat warnamu
menjadi permata dalam darah
yang semakin teduh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar