Senin, 31 Desember 2012

Tahun berlayar

Januari menyambut senyum
Berserta mimpi
Berlayar, menuai benih rindu
2013
Selamat datang :)

Minggu, 23 Desember 2012

Puri Ukiran : Agung Putra

Terlampau jauh
Kuingat kisah itu
Pada lumut telapak gang
Menyempit
Sedan sedu menyapa serampang
Mengulurkan kasih cinta yang terlalu jauh
Ini bangunan bersejarah : katamu
Tempat Raja Badung mengehela napas
Seperti pawang hujan menyematkan mantra
     Dengan daun base dan cabe merah
Yang tak pernah tuntas
Kau selalu menutup batas tembok
Dengan dongeng leluhurmu
Menyatu bersama hujan
       Gerimis bulan mei
Dingin rebah
Aku terhanyut
Bila cinta cerita cita
Hanya habis disini
Berukir gerbang
Tanpa aku pernah mengintipnya
Aku selalu membayangkan
         Bermimpi menduduki singgasana
Mengenakan pakaian prada
         Rambut digelung agung
Corak kuning langsat hiasannya
Semburat itu hanya angan
Yang memutih tanpa nyata
Kau hanya mimpi
Bahkan aku seorang papa
           Tak dapat jadi putri
Oh.. Putra Denpasar,
Kenanglah aku
Walau kita sudah berjarak

Salamku
Dari Utara Bali
Untukmu
Di Puri Ukiran

231212

Yang Dilampaui

Kamboja mengenal erat garisgaris tegas
Melumuri batang sampai akar
Ia paham,
Remaja sibuk mengeringkan bunga
Ketika sepasang kekasih bercumbu
Mungkin pada masa kanak
Ia menjadi tempat petak-umpet.
Sesajen pun ia dapat. Dalam sebuah perayaan.
Lalu, adakah teduh menyeduh kerinduan
Yang terpajang lugas
Di setiap babak,
Bilamana ia menggugurkan helai demi helai
Mengeras. Dan semakin memucat.
Dengar. Dengar suaranya.
Ia merintih. Dalam sepi.

Koridor dua

Ingatan itu masih tersesat
Sampai mana angin menyerbu
Pada tangantangan yang selalu nakal
Pada inginnya menjadi dua
Terpisah.
Mungkin ini sebab ku
Tetapi pagi sehabis hujan itu
Tidak ada celah
Untuk menemukan muara
Dihatiku-dihatimu
Tanpa beda
Hanya karena diskusi kecil
Gemerisik selokan pun terdengar
Buyar.

Pada Kedai Depan Taman Kota

Telah ku temui bima
Ia membawa tapal
Lengkap imaji masa lampau.
Saat malam mengehentak
Ia datang.
Kali ini dengan mata bulatbulat
Jemarinya mengepal
Seolah tak ingin menelan kembali
Kisahkisah kurusetra
Sebab itu, ia tak sempat selipkan
Kisahkisah dewi sita
Tak ia tuturkan bagaimana cantiknya
Seperti ada. Seperti tiada.
Inginkannya sita kembali menjadi dua
Agar satu dilahapnya
Dan satu lagi
Untuk dia, dilain kali

Bus Trans

Saat inilah
Detik dimana pertarungan bermula
Diantara kilometer lempang
Dari timur sampai barat
Menyemaikan kerinduan
Bangkubangku hijau tua
Sekali waktu penjual tahu melintasi ilusi
Begitu pula pendagang mie instan
Mereka melahap sepi

Kembali kubertarung,
Kali ini dengan melirik kaca berembun
Teringat terang ketika menulis namamu
Pada bis trans yang lalu,
Sampai terdesak tawamu membaca
Saat itu kau masih memelukku

Sekali lagi kubertarung
Lengkap dengan rudal besi
Senapan panjang, pistol
Bahkan metanol
Kau mengajakku menirukan bunyibunyi gundah
Menyisingkan lengan baju
Memaksa berkoloni dengan bangkubangku
Rupanya kau sudah berjarak
Dengan sandaranku.

Bus trans kembali melaju

Kepada Jalak Bali

Untuk sebuah pesta demokrasi
Kami menjinjit menerjang gelungan badai
Mengaduh pada teduh
Kami bersuara, kepada jalak bali selanjutnya

Kepakan sayap kau hembaskan
Adalah ruang depan muka
Jalak berkibar
Bali berkabar
Kabar kabar baik
Kabar ia menjadi suputra
Dan di jujung rakyat
Bali dwipa jaya
Kami titipkan butir embun dalam harap
Hingga kau menjadi
Aktor dalam sandiwara : hidup kehidupan
Kami Memilih kresna bagi kurusetra
Serta melahirkan burungburung
Terbang menuai benih darma
Kursi sudah tersedia
Hanya kau yang akan menghiasnya
Menjadi kursi tua ataukah sebuah singgasana raja
Kami.kami. ingat kami. Kami. Kami. Akan mengabdi.

Tangan Kedua : Agatha

Untuk kesekian kali
Aku selalu mengenang
Kekupu bertengger di kaca itu
Mengepakan sejuta cerita
    Antara bangku dan pengemudi
Bahkan sejuk masih ku rasa
Seperti lagu dari tape
     Memutar senandung cinta
Tangan kedua - sangat senyap
Sayupsayup bercerita tentang kelahiran
       Pada saat aku menyentuhnya
Sejuk masih terasa
Ketika bulan meletakan bayangmu
Atau suara melankolis : menggema
Kau tetap utuh
Persis saat kau mengeja rumus
Membaca lantang reamur
Satu dua tiga

Tangan suara
Seperti sejuta bulan
Yang tak habisnya kau ternakan
Pada lapang dinding rumah langitku
Hanya suarasuara berbabu
Bahkan goresannya samar
Bergelut hawa diam
Aku mengenang mu di bait kedua
Saat tangan kedua
Memanggil ku untuk menyebutmu
Agatha

Senin, 17 Desember 2012

SWAMANDALA VII


Selalu aku menerka
Disebelah mana
Kau sembunyikan dongeng burung elang
Cerita ayam hitam dan kucing belang
Mungkin juga sudah hilang
Malang

Selalu aku menerka
Diruang mana
Dia menyiram mesra pohon salam
Kemudian menyandur nalam
Memetik buah malam
Gulam

Selalu aku menerka
Disudut mana
Aku menukik penat hati
Merembes pelan – pelan di pori kapur jati
Hingga selasar terjuntai pati
Mati

Ganggang
Tak bertembok
Tidak bertuan juga
Hanya perayaan bocahbocah
Yang sibuk meniduri kesedihan
Bahkan sampai lupa dongengnya