Kamis, 26 Desember 2013

HUJAN PURNAMA




 Sementara waktu adalah ruang penebusan dosa
Dan hidup hanya untuk doa cinta
Yang menanah dalam derita

            Setiap melihat mata langit, tidak ada celah untukku menikmati binarnya. Setiap aku menjatuhkan diri untuk mencintainya, mengaguminya, tetaplah tak secantik kata orang. Purnama yang disebut itu masih diliputi kabut tebal. Aku bisa merasakan kecemasan, bila mana Kala Rawu menghampiri tiba-tiba, menarik seluruh cahaya dan melahap bulat – bulat tubuhnya. Membayangkan saja aku benar – benar ngilu. Aku sungguh terancam dengan khayalan itu. Sebab, aku seakan bercermin pada langit. Seperti aku adalah purnama yang gemetar menunggu Kala Rawu. Entahlah, mungkin semua ketakutan ini berawal dari kewajiban, berawal dari garis tangan.
            Sungguh berat menerima takdir. Aku,  Anak Agung Ayu Candra Dewi tak lain pewaris tunggal dari Puri Ukiran. Kewajibanku adalah tetap berada di karang rumah. Menurut kepercayaan keluarga, bilamana satu keluarga tidak mempunyai anak laki – laki untuk  meneruskan keturunan, maka anak perempuan pertama merupakan ahli waris dan harus melakukan upacara nyentana saat pernikahan nanti. Ajik sebagai anak tertua tidak memiliki keturunan lelaki. Hanya aku. Perempuan seorang. Bulan lalu ajik sudah diaben. Namun, ketika belum semua abu tulang luruh, sanak saudara sudah membuka percakapan tentang warisan. Dan debu pengabenan hanyalah pengiring pembicaraan sesak itu. Aku pun sesak. Selalu didesak untuk mencari pasangan. Aku lelah, aku lelah.

***

            Aku yakin, semesta adalah ibu. Maka aku adalah ibu bagi sesiapa penghuninya. Kehidupan semakin menjadi semesta, ketika suamiku meninggal sebulan yang lalu. Peristiwa itu benar – benar mengupas air mata. Seluruh keluarga menanyakan kelanjutan warisan. Warisan, warisan, dan warisan. Sungguh rendah kata itu. Aku tidak sudi memperdebatkan hal yang selalu buntu. Anakku, Gek Candra, harus meneruskan keturunan dengan nyentana. Sedangkan aku tahu benar, ia sudah memiliki tambatan hati. Namun, lelaki itu orang kepara, tidak sepadan dengan kami. Lelaki itu tidak bisa menjadi kami. Empat tahun jalinan kasih itu, cukup sulit aku terima. Di sisi lain, aku menyukai lelaki itu. Hanya saja nama depannya yang menghalangi cintanya kepada anakku. Sudah saatnya aku memperkenalkannya dengan pemuda yang tepat.
Gek, buah kemarin di mana kau taruh?” tanyaku. “Sudah tiang haturkan,” katanya sembari merapikan rambut panjangnya. “Buah itu pemberian Wak Ngurah, Gek. Sekarang, kau bersiaplah. Sebentar lagi Gung Raka, anak Wak Ngurah tiba mengajakmu keluar. Ini malam minggu, carilah udara segar sejenak,” sambil kuberikan baju terbaik untuk kencannya.
“Tidak, biang. Tiang hanya keluar dengan Wayan Sudarma. Tiang tidak kenal dekat dengan Gung Raka.
Gek Candra, sudah biang katakan berkali – kali. Jangan ada apapun di antara kalian lagi. Wayan Sudarma adalah bebotoh. Keluarganya buruh semua. Berbeda dengan Gung Raka, lulusan ilmu hukum. Calon jaksa. Keluarganya sudah menyetujui bila kita mengambil Gung Raka. Gung Raka adalah anak terkahir, jadi dia bisa nyentana. Bisa kita minta, bisa menjadi keluarga kita. Masa depannya terjamin.
“Sudah biang katakan seribu kali, seribu kali pula tiang tidak bisa menerima.
“Bergegaslah pergi, Gung Raka sudah datang. Biang tidak menerima alasanmu.”
           
***

Gek, biang tau segalanya tentang perasaanmu. Maafkan biang, Gek. Namun, ini semua bukan kehendak biang. Gek mengertikan? Ini adalah bhakti kita pada leluhur,” ucapku perlahan. Di ruang tamu ini, kami sering menghabiskan waktu bersama. Terkadang mejejahitan, ngulat tipat, dan sekadar makan rujak. Namun, ruang ini menjadi mati, ketika permasalahan terus menjejal.
Tiang paham. Tiang sudah bertanggung jawab. Tiang sudah selesai dengan Wayan Sudarma. Tapi semua ini terpaksa biang. Bhakti yang tidak tulus seperti ini apa dapat diterima? Tiang ragu. Sebab, pernikahan hanyalah simbol penyatuan purusa dan predana. Tiang tidak ingin menjadi durhaka. Sayang kepada biang melebihi apapun. Sayang kepada biang adalah pagi yang selalu segar. Tapi tiang tidak bisa tulus mencintai Gung Raka,” sahutnya sambil menuduk lemah di sofa beludru itu. “Biang, apa perlu kita menghadapi takdir bila kita tidak cinta? Apa perlu kita menebus dosa untuk hutang – hutang pada leluhur? Apa perlu tiang mengubah nama depan demi bebas dari kutukan ini?” anakku mulai bertanya lantang.
“Semua sudah diatur, jalani dan nikmati. Kita adalah kapal layar yang tengah mengarungi samudra. Kita harus melewati ombak, badai dan angin untuk sampai ditujuan. Pernikahan adalah kewajiban,Gek. Bukan keperluan. Ya, ini kutukan. Tapi kutukan surga. Ya, ini semua harus kita hadapi dengan tegar. Lagi pula, bila nyentana, kau akan selalu di rumah. Selalu melihat biang.”
“Bukan saya tidak ingin melihat biang lama, tiang hanya..”
“Hanya ingin menujukan rasa sayangmu pada biang?”
Tiang lelah, tiang istirahat.” Ia hendak pergi menuju kamar. Cepat – cepat aku mencegahnya.
“Tunggu,Gek. Ayo duduk kembali!
“Tidak!”
Gek, kemarilah.. biang menceritakan sesuatu.”
“Bila tidak bisa mengubah takdir, lebih baik jangan diceritakan!”
“Tidak ada takdir yang selalu hadir sekehendak hati. Kau harus paham itu. Kelahiran adalah penebusan dosa. Kematian adalah pertanggungjawaban dosa. Biang mengerti. Biang mengerti kau sangat mencitainya. Biang mengerti kau bosan hidup di puri. Biang tahu benar kau ingin kuliah dan mencari kehidupan di luar sana. Biang tahu, ini abad modern. Biang tahu ini masa emansipasi. Tapi semua itu tidak berarti jika hidup masih dalam hutang dan dosa.”
“Jadi, sudah sampai mana biang tahu tentang hutang dan dosa? Sampai mana biang tahu tentang kelahiran, kematian? Hidup hanya menunda kekalahan, kata Chairil. Dan tiang bosan menunda kekalahan. Tiang ingin menjadi pramugari, tiang ingin menjadi politisi muda, tiang ingin menjadi penulis. Tapi semua terhambat, karena tiang harus menikah.”
“Kenapa biang diam? Sudah tidak bisa menjawab takdir? Apa biang sudah tidak sayang pada tiang, sehingga biang bisa menjadikan tiang alat untuk mempertahankan warisan ajik? Mengapa tidak dibagikan saja segala tanah, sawah, kebun milik ajik kepada Tuajik Ngurah, Tuwak Gede, Atu Biang Sari? Mereka selalu mendesak tiang. Tiang takut. Tiang takut bila terjadi sesuatu pada biang, tiang takut bila biang dikenai denda akibat ulah tiang. Tiang takut.. biang..”
Malam itu, kami habiskan malam dengan menangisi pertanyaan yang belum terang jawabnya. Malam yang remang, bulan tidak terlihat. Gerimis menyapa percakapan kami.
Biang dan ajik-mu juga tidak saling mencintai,Gek.” Perlahan aku menyambung percakapan dengan emosi yang tertahan.
Biang dan ajik-mu dipaksa menikah hanya untuk kepentingan politik. Dulu ajik-mu adalah seorang pewira yang disegani. Namun, semua prestasi itu tidak membuatnya bahagia. Agar Ajik-mu dapat naik pangkat, ia harus menikahi Biang. Biang kala itu berusia 20 tahun. Gungkakmu yang mempunyai peranan penting dalam angkatan pembela negara, mensyaratkan itu pada Biang dan Ajik-mu. Namun, hal itu ternyata tidak semata mata penaikan pangkat ajik-mu. Hal itu juga terkait perluasan kekuasaan dan penguatan persekutuan. Akhirnya Gungkak terpilih menjadi wali kota. Biang dan ajik sungguh terpukul. Setelah penikahan kami yang megah, kami tidak berhubungan apapun selama beberapa tahun.”
“Mengapa biang baru menceritakannya?”
“Ini rahasia, Gek. Ini aib keluarga. Sekaranglah saatnya kau tahu. Setelah tahun kelima kami tidak berhubungan badan, komunikasi, bertemu. Semua mulai curiga. Keturunan kami mulai dipertanyakan. Kami yang saat itu memiliki kekasih, memutuskan untuk mengadopsi anak. Anak yang kami adopsi sewaktu bulan benderang di kaki Bukit Watu Karu.”
Biang, siapa anak itu?”

***

Ternyata aku bukanlah anak kandung mereka, aku adalah darah kepara. Pantas, tidak sedikitpun aku tertarik pada kehidupan puri. Biang menceritakan bahwa aku adalah anak dari keluarga biasa yang saat itu sedang kesulitan ekonomi. Keluarga di Desa Wongaya itu, sangat berterimakasih karena biang bersedia merawat anaknya. Dan saat itu aku diberi nama Candra Dewi. Tidak lain adalah Dewi Bulan yang menerangi gelap semesta.

14 Mei 2011
Sebentar lagi, upacaraku berlangsung. Sebentar lagi aku menjadi purusa.
            “Lihatlah,Gek. Semesta merestui. Semesta menyambut hidupmu dengan hujan. Biang seperti diguyur purnama. Segala yang tadi gelap, kini lepas. Hujan,Gek.. hujan purnama. Suksma, sayang. Suksma Hyang Widhi.”
“Tidak,Biang.. ini bukan hujan, ini adalah airmata.”
“Air mata bahagia, bukan?”