Sementara waktu adalah
ruang penebusan
dosa
Dan hidup hanya untuk
doa cinta
Yang menanah dalam
derita
Setiap
melihat mata langit, tidak ada celah untukku menikmati binarnya. Setiap aku
menjatuhkan diri untuk mencintainya, mengaguminya, tetaplah tak secantik kata
orang. Purnama yang disebut itu masih diliputi kabut tebal. Aku bisa merasakan
kecemasan, bila mana Kala Rawu menghampiri
tiba-tiba, menarik seluruh cahaya dan melahap bulat – bulat tubuhnya.
Membayangkan saja aku benar – benar ngilu. Aku sungguh terancam dengan khayalan itu. Sebab, aku seakan
bercermin pada langit. Seperti aku adalah purnama yang gemetar menunggu Kala Rawu. Entahlah,
mungkin semua ketakutan ini berawal dari kewajiban, berawal dari garis tangan.
Sungguh
berat menerima takdir. Aku, Anak Agung
Ayu Candra Dewi tak lain pewaris tunggal dari Puri Ukiran. Kewajibanku adalah tetap berada di karang rumah.
Menurut kepercayaan keluarga, bilamana satu keluarga tidak mempunyai anak laki
– laki untuk meneruskan keturunan, maka
anak perempuan pertama merupakan ahli waris dan harus melakukan upacara nyentana saat pernikahan nanti. Ajik
sebagai anak tertua tidak memiliki keturunan lelaki. Hanya aku. Perempuan
seorang. Bulan lalu ajik
sudah
diaben. Namun, ketika belum semua abu tulang luruh, sanak saudara sudah membuka
percakapan tentang warisan. Dan debu pengabenan hanyalah pengiring pembicaraan
sesak itu. Aku pun sesak. Selalu didesak untuk mencari pasangan. Aku lelah, aku
lelah.
***
Aku
yakin, semesta adalah ibu. Maka aku adalah ibu bagi sesiapa penghuninya.
Kehidupan semakin menjadi semesta, ketika suamiku meninggal sebulan yang lalu.
Peristiwa itu benar – benar mengupas air
mata.
Seluruh keluarga menanyakan kelanjutan warisan. Warisan, warisan, dan warisan.
Sungguh rendah kata itu. Aku tidak sudi memperdebatkan hal yang selalu buntu.
Anakku, Gek Candra, harus meneruskan keturunan dengan nyentana. Sedangkan aku tahu benar, ia sudah memiliki tambatan
hati. Namun, lelaki itu orang kepara, tidak sepadan dengan kami. Lelaki itu
tidak bisa menjadi kami. Empat tahun jalinan kasih itu, cukup sulit aku terima.
Di sisi lain, aku menyukai lelaki itu. Hanya saja nama depannya yang
menghalangi cintanya kepada anakku. Sudah saatnya aku memperkenalkannya dengan
pemuda yang tepat.
“Gek, buah kemarin di mana kau taruh?” tanyaku. “Sudah tiang
haturkan,” katanya sembari merapikan rambut panjangnya. “Buah itu pemberian Wak
Ngurah,
Gek. Sekarang, kau bersiaplah.
Sebentar lagi Gung Raka,
anak Wak Ngurah
tiba mengajakmu keluar. Ini malam minggu, carilah udara segar sejenak,” sambil kuberikan
baju terbaik untuk kencannya.
“Tidak, biang. Tiang
hanya keluar dengan Wayan Sudarma. Tiang
tidak kenal dekat dengan
Gung Raka.”
“Gek
Candra, sudah biang katakan berkali – kali. Jangan ada apapun di antara kalian
lagi. Wayan Sudarma adalah bebotoh.
Keluarganya buruh semua. Berbeda dengan Gung
Raka, lulusan ilmu hukum.
Calon
jaksa. Keluarganya sudah menyetujui bila kita mengambil Gung Raka. Gung Raka
adalah anak terkahir, jadi dia bisa nyentana.
Bisa kita minta, bisa
menjadi keluarga kita. Masa depannya terjamin.”
“Sudah biang katakan seribu kali, seribu kali pula tiang tidak bisa
menerima.”
“Bergegaslah pergi, Gung Raka sudah datang. Biang tidak menerima alasanmu.”
***
“Gek, biang
tau segalanya tentang perasaanmu. Maafkan biang, Gek.
Namun, ini semua bukan kehendak biang.
Gek mengertikan? Ini adalah bhakti kita pada leluhur,” ucapku
perlahan. Di ruang tamu ini, kami sering menghabiskan waktu bersama. Terkadang mejejahitan, ngulat tipat, dan sekadar
makan rujak. Namun, ruang ini menjadi mati, ketika permasalahan terus menjejal.
“Tiang paham. Tiang sudah
bertanggung jawab. Tiang sudah
selesai dengan Wayan Sudarma. Tapi semua ini terpaksa biang. Bhakti yang tidak
tulus seperti ini apa dapat diterima? Tiang
ragu. Sebab, pernikahan hanyalah simbol penyatuan purusa dan predana. Tiang tidak ingin menjadi durhaka. Sayang
kepada biang melebihi apapun. Sayang
kepada biang adalah pagi yang selalu
segar. Tapi tiang tidak bisa tulus
mencintai Gung Raka,” sahutnya sambil
menuduk lemah di sofa beludru itu. “Biang,
apa perlu kita menghadapi takdir bila kita tidak cinta? Apa perlu kita menebus
dosa untuk hutang – hutang pada leluhur? Apa perlu tiang mengubah nama depan demi bebas dari kutukan ini?” anakku
mulai bertanya lantang.
“Semua sudah diatur,
jalani dan nikmati. Kita adalah kapal layar yang tengah mengarungi samudra. Kita
harus melewati ombak, badai dan angin untuk sampai ditujuan. Pernikahan adalah
kewajiban,Gek. Bukan keperluan. Ya,
ini kutukan. Tapi kutukan surga. Ya, ini semua harus kita hadapi dengan tegar.
Lagi pula, bila nyentana, kau akan selalu di rumah. Selalu
melihat biang.”
“Bukan saya tidak ingin
melihat biang lama, tiang hanya..”
“Hanya ingin menujukan
rasa sayangmu pada biang?”
“Tiang lelah, tiang
istirahat.” Ia hendak pergi
menuju kamar. Cepat – cepat aku mencegahnya.
“Tunggu,Gek. Ayo duduk kembali!”
“Tidak!”
“Gek, kemarilah.. biang menceritakan sesuatu.”
“Bila tidak bisa
mengubah takdir, lebih baik jangan diceritakan!”
“Tidak ada takdir yang
selalu hadir sekehendak
hati. Kau harus paham itu. Kelahiran adalah penebusan dosa. Kematian adalah
pertanggungjawaban dosa. Biang mengerti.
Biang mengerti kau sangat mencitainya.
Biang mengerti kau bosan hidup di puri. Biang tahu benar kau ingin kuliah dan mencari kehidupan di luar
sana. Biang tahu, ini abad modern. Biang tahu ini masa emansipasi. Tapi
semua itu tidak berarti jika hidup masih dalam hutang dan dosa.”
“Jadi, sudah sampai mana biang tahu tentang hutang dan dosa? Sampai mana biang tahu tentang kelahiran, kematian?
Hidup hanya menunda kekalahan, kata Chairil. Dan tiang bosan menunda kekalahan.
Tiang ingin menjadi pramugari, tiang ingin menjadi politisi muda, tiang ingin menjadi penulis. Tapi semua
terhambat,
karena tiang harus menikah.”
“Kenapa biang diam? Sudah tidak bisa menjawab
takdir? Apa biang sudah tidak sayang
pada tiang, sehingga biang bisa menjadikan tiang alat untuk mempertahankan warisan ajik? Mengapa tidak dibagikan saja segala tanah, sawah, kebun milik
ajik kepada Tuajik Ngurah, Tuwak Gede,
Atu Biang Sari? Mereka selalu
mendesak tiang. Tiang takut. Tiang takut
bila terjadi sesuatu
pada biang, tiang takut bila biang
dikenai denda akibat ulah tiang. Tiang takut.. biang..”
Malam itu, kami
habiskan malam dengan menangisi pertanyaan yang belum terang jawabnya. Malam
yang remang, bulan tidak terlihat. Gerimis menyapa percakapan kami.
“Biang dan ajik-mu
juga tidak saling mencintai,Gek.”
Perlahan aku menyambung percakapan dengan emosi yang tertahan.
“Biang dan ajik-mu
dipaksa menikah hanya untuk kepentingan politik. Dulu ajik-mu adalah seorang pewira yang
disegani. Namun, semua prestasi itu tidak membuatnya bahagia. Agar Ajik-mu
dapat naik pangkat, ia harus menikahi Biang.
Biang kala itu berusia 20 tahun. Gungkakmu yang mempunyai peranan penting
dalam angkatan pembela
negara, mensyaratkan itu pada Biang
dan Ajik-mu.
Namun, hal itu ternyata tidak semata mata penaikan pangkat ajik-mu. Hal itu juga terkait perluasan
kekuasaan dan penguatan persekutuan. Akhirnya Gungkak terpilih menjadi wali kota. Biang dan ajik sungguh
terpukul. Setelah penikahan kami yang megah, kami tidak berhubungan apapun
selama beberapa tahun.”
“Mengapa biang baru menceritakannya?”
“Ini rahasia, Gek. Ini aib keluarga. Sekaranglah
saatnya kau tahu. Setelah tahun kelima kami tidak berhubungan badan,
komunikasi, bertemu. Semua mulai curiga. Keturunan kami mulai dipertanyakan.
Kami yang saat itu memiliki kekasih, memutuskan untuk mengadopsi anak. Anak
yang kami adopsi sewaktu bulan benderang di kaki Bukit Watu Karu.”
“Biang, siapa anak itu?”
***
Ternyata aku bukanlah
anak kandung mereka, aku adalah darah kepara. Pantas, tidak sedikitpun aku
tertarik pada kehidupan puri. Biang menceritakan bahwa aku adalah anak
dari keluarga biasa yang saat itu sedang kesulitan ekonomi. Keluarga di Desa
Wongaya itu, sangat berterimakasih karena
biang bersedia merawat anaknya. Dan saat itu aku diberi nama Candra Dewi.
Tidak lain adalah Dewi Bulan yang menerangi gelap semesta.
14
Mei 2011
Sebentar lagi, upacaraku berlangsung.
Sebentar lagi aku menjadi purusa.
“Lihatlah,Gek. Semesta merestui. Semesta menyambut hidupmu dengan hujan. Biang seperti diguyur purnama. Segala yang tadi
gelap, kini lepas. Hujan,Gek.. hujan
purnama. Suksma, sayang. Suksma Hyang
Widhi.”
“Tidak,Biang.. ini bukan hujan, ini adalah airmata.”
“Air mata bahagia, bukan?”
Keren land :)
BalasHapus