hari ini empat belas, bukan begitu?
dan aku (mungkin tidak sengaja) mengingatmu, tepat saat empat belas terakhir di tahun 2014
apa kabar? kapan aku dapat sepucuk surat lagi? masihkah Mei milik kita?
kau begitu cepat lepas dari rinduku
mungkin ini tahun kesekian kau meninggalkanku
jadi sudah terbiasa, aku sudah terbiasa (mungkin tidak snegaja) mengingatmu
walau (kadang) rindu
setiap tanggal empat belas, selalu saja
ada yang berbeda
istimewa
siapa peduli dengan empat belas? kalau besok adalah tahun baru dan kita mulai lagi mencari tahu di mesin google, akun fb, twitter, instagram, line, bbm, atau no tlpn (yang selalu rahasia), tentang kerinduan.
mungkin saja kita membuka serambi hati
ada kenangan yang tertinggal di bibirmu,
mungkin kecupanku yang terakhir
yang waktu itu sepucuk mawar putih
untuk menebus air matamu
siapa peduli? kecuali kita yang selalu menepati kenangan?
entahlah, aku hanya ingin lelah memikirkan kata cinta
soal cinta yang lebih rumit dari sintaksis
yah, mungkin nanti
di meja kerjaku, di suatu sudut kota, di perbatasan desa, di seberang benua,
kau akan mengirim surel atau apalah sejenisnya di masa datang
untuk menagih janjiku, datang ke pesta penuh darah dewa
yah, mungkin nanti
aku datang, saat aku siap menikmati bahagiamu
di sajikan di depan leluhur
yang selalu berdarah memikirkan penerusnya
aku (mungkin tidak sengaja) masih rindu,
walau tidak cinta (seperti dulu)
sepatu hak tinggi
dan aku (mungkin tidak sengaja) mengingatmu, tepat saat empat belas terakhir di tahun 2014
apa kabar? kapan aku dapat sepucuk surat lagi? masihkah Mei milik kita?
kau begitu cepat lepas dari rinduku
mungkin ini tahun kesekian kau meninggalkanku
jadi sudah terbiasa, aku sudah terbiasa (mungkin tidak snegaja) mengingatmu
walau (kadang) rindu
setiap tanggal empat belas, selalu saja
ada yang berbeda
istimewa
siapa peduli dengan empat belas? kalau besok adalah tahun baru dan kita mulai lagi mencari tahu di mesin google, akun fb, twitter, instagram, line, bbm, atau no tlpn (yang selalu rahasia), tentang kerinduan.
mungkin saja kita membuka serambi hati
ada kenangan yang tertinggal di bibirmu,
mungkin kecupanku yang terakhir
yang waktu itu sepucuk mawar putih
untuk menebus air matamu
siapa peduli? kecuali kita yang selalu menepati kenangan?
entahlah, aku hanya ingin lelah memikirkan kata cinta
soal cinta yang lebih rumit dari sintaksis
yah, mungkin nanti
di meja kerjaku, di suatu sudut kota, di perbatasan desa, di seberang benua,
kau akan mengirim surel atau apalah sejenisnya di masa datang
untuk menagih janjiku, datang ke pesta penuh darah dewa
yah, mungkin nanti
aku datang, saat aku siap menikmati bahagiamu
di sajikan di depan leluhur
yang selalu berdarah memikirkan penerusnya
aku (mungkin tidak sengaja) masih rindu,
walau tidak cinta (seperti dulu)
sepatu hak tinggi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar