Karena aku lelah, banyak yang tak menghiraukan beberpa langkah gelisahku. Bahkan kepenatan ini semakin menjadi. Aku sudah lama ingin bermain dengan riang gembira. Tapi kerena lelahku ini tak bisa dibujuk, akhirnya aku torehkan beberapa kata untuk meredakannya.
"Hai lelah, masihkah kau menemaniku?"
Ternyata ia tak punya nyali untuk mejawab.
Kutanya lagi
"Hai lelah, mengapa kau begitu setia melekat dengan peluhku?"
Ia tak menjawab. Kemudian aku bersihkan tubuh dengan air hangat, agar terkelupas lelah itu.
Ah, bandel juga.
"Hai lelah, kau sudah bangun? ayo lekas pergi dari tubuhku!"
diam
"Apa aku salah menaruh diri?
kau butuh lelah. Kau butuh aku."
Sahutnya dengan berbisik.
"Mengapa?"
"Sebab, hanya lelah yang mampu membuatmu istirahat."
"Aku tak perlu itu!"
"Dengar, aku akan pergi. Bila kau sudah lelap. Dan bila esok kau lihat matahari sambil tersenyum, izinkan aku datang kembali."
dan aku terbangun. "Hai lelah, kau sudah pergi?"
Hanya suara angin yang menyahutku.
"Hai lelah, masihkah kau menemaniku?"
Ternyata ia tak punya nyali untuk mejawab.
Kutanya lagi
"Hai lelah, mengapa kau begitu setia melekat dengan peluhku?"
Ia tak menjawab. Kemudian aku bersihkan tubuh dengan air hangat, agar terkelupas lelah itu.
Ah, bandel juga.
"Hai lelah, kau sudah bangun? ayo lekas pergi dari tubuhku!"
diam
"Apa aku salah menaruh diri?
kau butuh lelah. Kau butuh aku."
Sahutnya dengan berbisik.
"Mengapa?"
"Sebab, hanya lelah yang mampu membuatmu istirahat."
"Aku tak perlu itu!"
"Dengar, aku akan pergi. Bila kau sudah lelap. Dan bila esok kau lihat matahari sambil tersenyum, izinkan aku datang kembali."
dan aku terbangun. "Hai lelah, kau sudah pergi?"
Hanya suara angin yang menyahutku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar