Sabtu, 25 Mei 2013

Kembang Kertas


Rinduku belum tuntas. Mencium
Tipis warna Kembang Kertas
Wangi itu tertahan angin bulan Mei
            Yang selalu melekatkan debu

Sudah ada hujan untuk melumatkan segarnya
--diam tak bersuara jernih
Aku terbangkan putik keriputnya. Menerjemahkan
Waktu yang sia – sia lahir
Demi sebuah duka tanpa tahu jalan kembali.
Setelah pedang mengepung duridurinya
Dan sejak mimpi mengutuknya tak bergumam
Cahaya selalu gemetar : dalam dingin rasa

Siapakah yang menyapu kelopak lelahmu?
Malam kah?
Aku yakin bulan pun tak sepaham. Bila
Bintang selalu mengunjungi potongan ceritamu.
Seperti  siang – siang lelah
Menguji sejauh mana
Kau menyalakan tangis beku

Ah, kau hanya tak berani meluncurkan airmata
Belum lengkap diam itu
Memeluk cintamu yang tertahan
            Untuk kumbang mata merah
Pun sebuah perpisahan kepada gelumbang embun
di setiap subuh

Kemudian rumah terkahir tak cukup
Menyentuh tiga kelopakmu
Yang lemas dan selalu terbawa angin musim
Sampai jingga menyambut malam
Barulah pucuk memadu rindu
            Dan lagilagi kau tak pernah tahu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar