Rinduku
belum tuntas. Mencium
Tipis
warna Kembang Kertas
Wangi
itu tertahan angin bulan Mei
Yang selalu melekatkan debu
Sudah
ada hujan untuk melumatkan segarnya
--diam
tak bersuara jernih
Aku
terbangkan putik keriputnya. Menerjemahkan
Waktu
yang sia – sia lahir
Demi
sebuah duka tanpa tahu jalan kembali.
Setelah
pedang mengepung duridurinya
Dan
sejak mimpi mengutuknya tak bergumam
Cahaya
selalu gemetar : dalam dingin rasa
Siapakah
yang menyapu kelopak lelahmu?
Malam
kah?
Aku
yakin bulan pun tak sepaham. Bila
Bintang
selalu mengunjungi potongan ceritamu.
Seperti
siang – siang lelah
Menguji
sejauh mana
Kau
menyalakan tangis beku
Ah,
kau hanya tak berani meluncurkan airmata
Belum
lengkap diam itu
Memeluk
cintamu yang tertahan
Untuk kumbang mata merah
Pun
sebuah perpisahan kepada gelumbang embun
di
setiap subuh
Kemudian
rumah terkahir tak cukup
Menyentuh
tiga kelopakmu
Yang
lemas dan selalu terbawa angin musim
Sampai
jingga menyambut malam
Barulah
pucuk memadu rindu
Dan lagilagi kau tak pernah tahu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar