Musim ini penuh gerimis, setiap jendela
menggoda embun. Begitupula kekupu putih menari menyulut rindu diantara celah
sinar, bersama pohon cemara. Kembali aku
mengusap dada. Menyekah air mata. Rasa ini kian gelisah. Mungkin sebuah rindu?
Namun, untuk siapa? Aku lupa.
***
Mimpi menyentuh angan masa depan. Bagaimana
kehidupan bersama keluarga yang aku cinta? Apa diusia senja nanti, masih ada
gerimis menyapa ketenangan?
Suatu penanggalan akhir dibulan Mei. Aku
memilih rumah di daerah Ibu Kota. Tentu dengan hasil jerih payah yang telah
terkumpul. Ini hanya untuk istri, dan sepasang putriku. Rumah yang nyaman,
sangat rimbun dengan Bunga Kamboja, Melati, Anggrek, serta Pohon Cemara. Kami
menyebut rumah idaman ini dengan “Taman Sari”. Tempat penyegaran jiwa, dan
taman bagi pertemuan kami. Tidak kalah pentingnya, sari buah dari pertemuan itu
akan menjadi masa dimana kami menoreh cerita. Sebuah bekal hidup, sangat
berharga. Taman yang penuh kekupu. Mencari sari – sari kehidupan, ditengah
kelopak rintangan. Sebuah takdir menjadi subur, dan merimbun kebahagiaan kami.
***
Aku turun dari ranjang basah ini.
Ranjang yang kutiduri sekian degup jantung. Besi menyangganya sudah berlumut,
dan mencokelat. Namun, masih nyaman menemani mimpi.
Setiap hari, melakukan kegiatan yang
sama. Bangun tidur, dan menatap sebuah foto. Figuranya diselimuti jaring laba –
laba. Ada diriku, seorang perempuan, dan dua gadis mungil. Siapa mereka?
Mengapa tiga perempuan ini nampak bahagia bersamaku? Aku menenangkan diri.
Mungkinkah aku sudah berkeluarga? Jika benar, mengapa mereka tidak ada saat
diriku terbangun dari mimpi? Tidak ada yang menyediakan kopi hangat. Sungguh, merasa
sendiri.
Sementara aku berpikir, ada seorang
lelaki mengetuk kasar pintu rumah.
“Permisi ! Permisi ! Tolong buka
pintunya, saya ingin bicara. Halooooo ada orang didalam?”
Dengan penuh curiga aku membuka pintu.
Sembari membawa Cangkir kopi yang isinya telah habis kuteguk.
“Iya, ada perlu apa?”
Lelaki itu seperti ragu melihat diriku
tua renta, berjalan pelan.
“Apa anda Komang Kolik? Maaf, maksud
saya Pak Komang Kodra? Saya Pan Gede, prebekel
desa. Tiyang, membawa surat dari kelian desa. Pinunas Tiyang, agar secepatnya bapak melunasi denda! Sebab, telah
berpuluh kali bapak tidak berpartisipasi dalam kegiatan desa!” Lelaki itu
berkata dengan lugas, sembari menyodorkan surat.
“Jadi nama saya Komang Kolik, atau
Komang Kodra? Maaf, saya tidak mengerti. Saya baru terbangun dari tidur. Saya juga tidak mengenal dimana saya tinggal.
Anda tahu siapa saya? Atau mungkin, anda pernah lihat orang-orang ini?” Tanyaku
tanpa ragu dan memperlihatkan foto yang aku temui dimeja makan.
“Tentu anda Komang Kodra. Anda lupa?
Bagaimana anda bisa lupa dengan panggilan Komang Kolik? Bukannya itu sangat
berperan dalam kehidupan anda? Foto ini jelas foto keluarga. Ini istri dan
kedua putri anda. Cepatlah jangan mengalihkan perbincangan! Saya meminta uang
denda!”
“Saya tidak tahu! Saya tidak mengerti tentang
uang! Bagaimana kalau diganti dengan cangkir kopi? Asal jangan kau ambil foto
ini!” Bergegas aku ambil foto itu, dan memberikannya cangkir kopi.
Mengobrol dengan orang asing yang tidak
kukenal sangat tidak membuahkan hasil. Meningglakannya adalah keputusan yang
bijak. Kemudian, aku tidak menghiraukan perdebatan itu lagi. Bergegas menjauhi
orang asing itu.
Di seberang jalan, nampak kasir penjaga
toko sembako. Tidak ada salahnya aku menanyakan kepadanya.
“Maaf, apa benar saya bernama Komang
Kodra? Apa anda mengenal orang dalam foto ini?” Aku bertanya dengan sangat
antusias. Dengan memperlihatkan foto
yang kata orang asing itu, foto ini adalah keluargaku.
Penjaga itu terdiam. Menghentikan
sejenak aktivitasnya menghitung pasokan barang yang baru saja tiba. Tatapan
lelaki itu sangat tajam. Ia menatapku dalam – dalam. Entah berapa kedalam sudah
Ia selami pikiranku. Apa dia gay?
“Setiap hari hanya pertanyaan ini yang
anda ajukan. Tuan, sebaiknya anda pulang dan beristirahat. Sebentar lagi senja.
Istri anda akan membawakan sup asparagus kesukaanmu. Kembali lah...” Dengan
sabar si penjaga toko menjawab, dan dia bukan gay.
Mungkinkah aku harus menanyakan pada matahari?
Siapa diriku? Apakah senja nanti, mampu mengelus rahasia? Rumah yang kutinggali
amat besar, namun tempat ini mempunyai arti. Sayangnya, aku tidak mampu
mengingat.
Harum aroma asparagus terasa mengayuh
lapar. Perlahan aku mengintip, siapakah yang tengah menggoda dengan wangi lezat
seperti ini?
“Sudah bangun rupanya. Lapar? Duduklah
di teras. Sebentar lagi, sup ini siap meredakan laparmu.” Kata wanita paruh
baya, yang menatapku tanpa heran. Dia tersenyum hangat. Sungguh cantik dan
menawan.
Sembari menuju teras, dalam keraguan
masih aku mengingat.
“Bagaimana tidurmu? Sudah merasa
baikan?” Tanya wanita bermata berlian itu, sembari menyajikan sup di atas meja.
“Apakah kau tahu siapa aku?” Aku
bertanya, sambil melihat keadaan sekitar. Rumah yang ditanami Pohon Cemara,
serta Bunga Kamboja. Sangat indah. Udaranya segar untuk meregakan kepenatan.
“Kau adalah suamiku. Kau Lelaki cemara
yang selalu meneduhkan hati. Sudahlah, habiskan sup itu, lalu minum obat ini.”
Sahutnya. Tatapan itu sangat tajam dan penuh kesabaran.
“Siapa namaku?”
“Namamu Komang Kodra. Ayo! minum
obatnya. Kata dokter, kau harus banyak minum air putih dan beristirahat.”
“Lalu Komang Kolik?” Aku tidak
mempedulikan himbauannya.
“Itu nama sapaanmu. Sup Asparagusnya
hampir dingin. Cepat habiskan, nanti tidak lezat kalau dingin.”
“Mengapa aku disapa demikan?”
“Ayo sini, aku tambahkan nasi putih.”
“Lalu, kenapa aku harus meminum obat?
Aku sakit?”
“Sudahlah, jalankan saja... Lalu, istirahat
kembali.”
“Tidak! Aku tidak ingin menuruti semua
perintahmu! Kau belum menjawab. Ini sudah senja, tetapi aku masih belum menemukan
jawaban atas pertanyaan yang timbul sewaktu aku terbangun. Katakan! siapa aku
sebenarnya?”
“Kamu adalah kamu! Kamu adalah dirimu!
Dan kamu adalah dirku! Cukuplah, jangan bertanya kembali.”
“Mengapa? Mengapa kau berbicara seperti
itu? Apakah aku tidak mempunyai hak untuk bertanya? Apakah aku harus selalu
menjadi batu?” Wanita itu merahasiakan sesuatu dariku, dan membuatku kesal.
“Lebih baik jadi batu saja.” Ia menutup
perbincangan dengan tegas. Aku terdiam, melihat Ia menatap langit senja. Airmatanya
berlinang, jemarinya mengepal. Sungguh namapak gelisah. Suasana menjadi hening.
“Kau lihat warna senja itu? Apakah
serupa? Aku melihat senja berwarna cokelat kemerahan, namun kau selalu bilang
warna senja itu nila. Kau masih ingat? Aku selalu menceritakanmu tentang Pohon
Cemara. Kemudian, kau berjanji menjadi lelaki cemara untuk taman kita. “Taman
Sari” nama itu adalah rumah kita. Kau selalu menyebutnya demikian. Penuh bunga,
pepohonan, dan sari – sari dari pertemuan ini kita jadikan bekal hidup untuk
mengaharumkan seluruh taman.” Perlahan wanita berambut hitam legam itu membuka
percakapan kembali.
“Lalu foto keluarga itu...”
“Foto itu keluarga kita. Keluarga yang
kita bangun dari dasar. Kau lelaki Cemara, dan aku wanita Kamboja. Anak – anak
kita, mereka kekupu yang selalu menghiasi setiap sudut taman kita. Namun,
kekupu itu sudah pergi.”
“Ke... kemana?” Tanyaku dengan sedikit
ragu.
“Entahlah, semenjak kejadian itu mereka
menghilang.”
“Kejadian apa itu?” Tanyaku kembali.
“Dulu, sepuluh tahun lalu kau adalah pengusaha
ternama. Pabrik kecap yang kau rintis dari lanjang, tumbuh pesat. Kau adalah
pengusaha muda. Setelah menikah denganku, kau mulai terjun dalam ruang penat
politik. Awalnya nampak baik. Usaha dan karir politikmu selalu memuaskan.
Namun, setelah anak kedua kita berusia 25 tahun, kau mulai goyah. Banyak
tawaran untuk menyusungmu menjadi calon legislatif. Disanalah semua bermula..”
“Benarkah? Lalu?”
“Banyak yang iri terhadap keberhasilan
kita. Sampai anak kita turut menjadi korban. Mereka tidak tahan. Lalu pergi
kerumah adik iparmu. Sudah berkali kali aku menghubungi mereka, namun selalu
tidak dapat balasan. Terkahir setahun lalu, mereka mengirimkan email. Bahwa
mereka sehat dalam keluarga yang sederhana. Mereka akan kembali bila hujan
badaimu telah berlalu, dan menerbitkan pelangi untuk keluarga kita. Lantas,
keadaan itu membuatmu tidak setabil. Terlebih kekalahan sewaktu pesta
demokrasi. Demikanlah masyarakat menyebutmu Komang Kolik tak lain Korban
Pilitik.”
Aku terkejut mendengar itu semua.
Benarkah ini sebuah keluarga? Aku merasa bersalah. “Jadi, seperti itu? Sungguh
aku tidak bertanggung jawab. Lalu, mengapa aku tidak ingat?”
“Setelah Komang Kolik memicu turunya laba perusahaan, kau menjadi
stres. Sering pengliatanmu kabur. Kata dokter, kau mengidap tumor otak ringan.
Namun, setelah pembedahan kau menjadi lupa. Siapa kamu, dan orang – orang
sekitarmu. Kau hanya bisa mengingatnya dalam mimpi.”
“Apamungkin, bila aku saat ini
tertidur.. maka aku akan lupa tentang ceritamu ini?”
“Yah, setiap hari kau melakukan kegiatan
yang sama. Bertanya hal yang sama.”
“Kalau begitu aku tidak ingin tertidur.
Aku masih ingin menikmati wangi senja diantara taman – taman kita. Aku akan
menghadirkan pelangi dan mencari anak kita. Aku berjanji mengumpulkan seluruh
keluarga dalam taman ini.” Kataku penuh keyakinan. Lalu aku memeluk halus
wanita ini. Dia istriku, dia Kamboja bagi Taman Sari ini. Dan akulah Si Lelaki
Cemara.
“Kau berkata hal yang sama setiap hari.
Tetapi kenyataan tetap serupa bayangan.”
“Tidak, kali ini aku tidak boleh
tetidur. Aku tidak boleh melewatkan senja yang indah. Aku akan ingat
selamanya.”
“Berjanjilah, bawa anak kita menikmati
kembali Taman Sari ini.” Istriku mengecup mesra keningku. Lalu kita saling
tersenyum.
Taman
Sari, 28 November 2012
Lihat ! Aku berhasil membawa mereka
kembali. Sungguh kekupu itu telah menjadi Burung Dara. Senyumnya mengepakan
kesejukan. Sungguh aku mensyukuri semua ini. Maaf, Aku belum mampu menjadi
Cemara yang meneduhkan Taman Sari ini. Aku rindu kalian, aku ingat kalian.
“Ayo masuk, ini sudah senja. Nikmatilah
taman ini bersama kenangan ayahmu. Sebelum pagi esok, kau tidak akan menatap
wajah ayah dan ceritanya lagi. Panjatkan doa, semoga Hyang Widhi menuntun surganya.” Kata istriku, sembari mengusap
airmata.
Hei! Aku sudah ingat ! Kita sudah
berkumpul kembali. Di Taman Sari tempat kesayangan kita. Aku sudah ingat
sewaktu kita berkeliaran menangkap cahaya kunang – kunang. Hei ! jangan diam
aku masih hidup!
“Sayang, kau telah menepati janjimu.
Kekupu itu telah kembali pada tamannya. Walau dengan cara yang tidak tepat.
Kita sudah berkumpul walau diwaktu yang salah, serta dalam keadaan yang
berbeda. Pergilah, ceritakan Taman Sari ini untuk penjaga surga.”
Taman
Sari mewangi, dalam sejuk senja..
Dan
cerita..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar