Senin, 06 Mei 2013

Senja di Taman Sari




Musim ini penuh gerimis, setiap jendela menggoda embun. Begitupula kekupu putih menari menyulut rindu diantara celah sinar, bersama pohon cemara.  Kembali aku mengusap dada. Menyekah air mata. Rasa ini kian gelisah. Mungkin sebuah rindu? Namun, untuk siapa? Aku lupa.

***

Mimpi menyentuh angan masa depan. Bagaimana kehidupan bersama keluarga yang aku cinta? Apa diusia senja nanti, masih ada gerimis menyapa ketenangan?
Suatu penanggalan akhir dibulan Mei. Aku memilih rumah di daerah Ibu Kota. Tentu dengan hasil jerih payah yang telah terkumpul. Ini hanya untuk istri, dan sepasang putriku. Rumah yang nyaman, sangat rimbun dengan Bunga Kamboja, Melati, Anggrek, serta Pohon Cemara. Kami menyebut rumah idaman ini dengan “Taman Sari”. Tempat penyegaran jiwa, dan taman bagi pertemuan kami. Tidak kalah pentingnya, sari buah dari pertemuan itu akan menjadi masa dimana kami menoreh cerita. Sebuah bekal hidup, sangat berharga. Taman yang penuh kekupu. Mencari sari – sari kehidupan, ditengah kelopak rintangan. Sebuah takdir menjadi subur, dan merimbun kebahagiaan kami.

***

Aku turun dari ranjang basah ini. Ranjang yang kutiduri sekian degup jantung. Besi menyangganya sudah berlumut, dan mencokelat. Namun, masih nyaman menemani mimpi.
Setiap hari, melakukan kegiatan yang sama. Bangun tidur, dan menatap sebuah foto. Figuranya diselimuti jaring laba – laba. Ada diriku, seorang perempuan, dan dua gadis mungil. Siapa mereka? Mengapa tiga perempuan ini nampak bahagia bersamaku? Aku menenangkan diri. Mungkinkah aku sudah berkeluarga? Jika benar, mengapa mereka tidak ada saat diriku terbangun dari mimpi? Tidak ada yang menyediakan kopi hangat. Sungguh, merasa sendiri.
Sementara aku berpikir, ada seorang lelaki mengetuk kasar pintu rumah.
“Permisi ! Permisi ! Tolong buka pintunya, saya ingin bicara. Halooooo ada orang didalam?”
Dengan penuh curiga aku membuka pintu. Sembari membawa Cangkir kopi yang isinya telah habis kuteguk.
“Iya, ada perlu apa?”
Lelaki itu seperti ragu melihat diriku tua renta, berjalan pelan.
“Apa anda Komang Kolik? Maaf, maksud saya Pak Komang Kodra? Saya Pan Gede, prebekel desa. Tiyang, membawa surat dari kelian desa. Pinunas Tiyang, agar secepatnya bapak melunasi denda! Sebab, telah berpuluh kali bapak tidak berpartisipasi dalam kegiatan desa!” Lelaki itu berkata dengan lugas, sembari menyodorkan surat.
“Jadi nama saya Komang Kolik, atau Komang Kodra? Maaf, saya tidak mengerti. Saya baru terbangun dari tidur.  Saya juga tidak mengenal dimana saya tinggal. Anda tahu siapa saya? Atau mungkin, anda pernah lihat orang-orang ini?” Tanyaku tanpa ragu dan memperlihatkan foto yang aku temui dimeja makan.
“Tentu anda Komang Kodra. Anda lupa? Bagaimana anda bisa lupa dengan panggilan Komang Kolik? Bukannya itu sangat berperan dalam kehidupan anda? Foto ini jelas foto keluarga. Ini istri dan kedua putri anda. Cepatlah jangan mengalihkan perbincangan! Saya meminta uang denda!”
“Saya tidak tahu! Saya tidak mengerti tentang uang! Bagaimana kalau diganti dengan cangkir kopi? Asal jangan kau ambil foto ini!” Bergegas aku ambil foto itu, dan memberikannya cangkir kopi.
Mengobrol dengan orang asing yang tidak kukenal sangat tidak membuahkan hasil. Meningglakannya adalah keputusan yang bijak. Kemudian, aku tidak menghiraukan perdebatan itu lagi. Bergegas menjauhi orang asing itu.
Di seberang jalan, nampak kasir penjaga toko sembako. Tidak ada salahnya aku menanyakan kepadanya.
“Maaf, apa benar saya bernama Komang Kodra? Apa anda mengenal orang dalam foto ini?” Aku bertanya dengan sangat antusias. Dengan memperlihatkan  foto yang kata orang asing itu, foto ini adalah keluargaku.
Penjaga itu terdiam. Menghentikan sejenak aktivitasnya menghitung pasokan barang yang baru saja tiba. Tatapan lelaki itu sangat tajam. Ia menatapku dalam – dalam. Entah berapa kedalam sudah Ia selami pikiranku. Apa dia gay?  
“Setiap hari hanya pertanyaan ini yang anda ajukan. Tuan, sebaiknya anda pulang dan beristirahat. Sebentar lagi senja. Istri anda akan membawakan sup asparagus kesukaanmu. Kembali lah...” Dengan sabar si penjaga toko menjawab, dan dia bukan gay.
Mungkinkah aku harus menanyakan pada matahari? Siapa diriku? Apakah senja nanti, mampu mengelus rahasia? Rumah yang kutinggali amat besar, namun tempat ini mempunyai arti. Sayangnya, aku tidak mampu mengingat.
Harum aroma asparagus terasa mengayuh lapar. Perlahan aku mengintip, siapakah yang tengah menggoda dengan wangi lezat seperti ini?
“Sudah bangun rupanya. Lapar? Duduklah di teras. Sebentar lagi, sup ini siap meredakan laparmu.” Kata wanita paruh baya, yang menatapku tanpa heran. Dia tersenyum hangat. Sungguh cantik dan menawan.
Sembari menuju teras, dalam keraguan masih aku mengingat.
“Bagaimana tidurmu? Sudah merasa baikan?” Tanya wanita bermata berlian itu, sembari menyajikan sup di atas meja.
“Apakah kau tahu siapa aku?” Aku bertanya, sambil melihat keadaan sekitar. Rumah yang ditanami Pohon Cemara, serta Bunga Kamboja. Sangat indah. Udaranya segar untuk meregakan kepenatan.
“Kau adalah suamiku. Kau Lelaki cemara yang selalu meneduhkan hati. Sudahlah, habiskan sup itu, lalu minum obat ini.” Sahutnya. Tatapan itu sangat tajam dan penuh kesabaran.
“Siapa namaku?”
“Namamu Komang Kodra. Ayo! minum obatnya. Kata dokter, kau harus banyak minum air putih dan beristirahat.”
“Lalu Komang Kolik?” Aku tidak mempedulikan himbauannya.
“Itu nama sapaanmu. Sup Asparagusnya hampir dingin. Cepat habiskan, nanti tidak lezat kalau dingin.”
“Mengapa aku disapa demikan?”
“Ayo sini, aku tambahkan nasi putih.”
“Lalu, kenapa aku harus meminum obat? Aku sakit?”
“Sudahlah, jalankan saja... Lalu, istirahat kembali.”
“Tidak! Aku tidak ingin menuruti semua perintahmu! Kau belum menjawab. Ini sudah senja, tetapi aku masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang timbul sewaktu aku terbangun. Katakan! siapa aku sebenarnya?”
“Kamu adalah kamu! Kamu adalah dirimu! Dan kamu adalah dirku! Cukuplah, jangan bertanya kembali.”
“Mengapa? Mengapa kau berbicara seperti itu? Apakah aku tidak mempunyai hak untuk bertanya? Apakah aku harus selalu menjadi batu?” Wanita itu merahasiakan sesuatu dariku, dan membuatku kesal.
“Lebih baik jadi batu saja.” Ia menutup perbincangan dengan tegas. Aku terdiam, melihat Ia menatap langit senja. Airmatanya berlinang, jemarinya mengepal. Sungguh namapak gelisah. Suasana menjadi hening.
“Kau lihat warna senja itu? Apakah serupa? Aku melihat senja berwarna cokelat kemerahan, namun kau selalu bilang warna senja itu nila. Kau masih ingat? Aku selalu menceritakanmu tentang Pohon Cemara. Kemudian, kau berjanji menjadi lelaki cemara untuk taman kita. “Taman Sari” nama itu adalah rumah kita. Kau selalu menyebutnya demikian. Penuh bunga, pepohonan, dan sari – sari dari pertemuan ini kita jadikan bekal hidup untuk mengaharumkan seluruh taman.” Perlahan wanita berambut hitam legam itu membuka percakapan kembali.
“Lalu foto keluarga itu...”
“Foto itu keluarga kita. Keluarga yang kita bangun dari dasar. Kau lelaki Cemara, dan aku wanita Kamboja. Anak – anak kita, mereka kekupu yang selalu menghiasi setiap sudut taman kita. Namun, kekupu itu sudah pergi.”
“Ke... kemana?” Tanyaku dengan sedikit ragu.
“Entahlah, semenjak kejadian itu mereka menghilang.”
“Kejadian apa itu?” Tanyaku kembali.
“Dulu, sepuluh tahun lalu kau adalah pengusaha ternama. Pabrik kecap yang kau rintis dari lanjang, tumbuh pesat. Kau adalah pengusaha muda. Setelah menikah denganku, kau mulai terjun dalam ruang penat politik. Awalnya nampak baik. Usaha dan karir politikmu selalu memuaskan. Namun, setelah anak kedua kita berusia 25 tahun, kau mulai goyah. Banyak tawaran untuk menyusungmu menjadi calon legislatif. Disanalah semua bermula..”
“Benarkah? Lalu?”
“Banyak yang iri terhadap keberhasilan kita. Sampai anak kita turut menjadi korban. Mereka tidak tahan. Lalu pergi kerumah adik iparmu. Sudah berkali kali aku menghubungi mereka, namun selalu tidak dapat balasan. Terkahir setahun lalu, mereka mengirimkan email. Bahwa mereka sehat dalam keluarga yang sederhana. Mereka akan kembali bila hujan badaimu telah berlalu, dan menerbitkan pelangi untuk keluarga kita. Lantas, keadaan itu membuatmu tidak setabil. Terlebih kekalahan sewaktu pesta demokrasi. Demikanlah masyarakat menyebutmu Komang Kolik tak lain Korban Pilitik.”
Aku terkejut mendengar itu semua. Benarkah ini sebuah keluarga? Aku merasa bersalah. “Jadi, seperti itu? Sungguh aku tidak bertanggung jawab. Lalu, mengapa aku tidak ingat?”
“Setelah Komang Kolik  memicu turunya laba perusahaan, kau menjadi stres. Sering pengliatanmu kabur. Kata dokter, kau mengidap tumor otak ringan. Namun, setelah pembedahan kau menjadi lupa. Siapa kamu, dan orang – orang sekitarmu. Kau hanya bisa mengingatnya dalam mimpi.”
“Apamungkin, bila aku saat ini tertidur.. maka aku akan lupa tentang ceritamu ini?”
“Yah, setiap hari kau melakukan kegiatan yang sama. Bertanya hal yang sama.”
“Kalau begitu aku tidak ingin tertidur. Aku masih ingin menikmati wangi senja diantara taman – taman kita. Aku akan menghadirkan pelangi dan mencari anak kita. Aku berjanji mengumpulkan seluruh keluarga dalam taman ini.” Kataku penuh keyakinan. Lalu aku memeluk halus wanita ini. Dia istriku, dia Kamboja bagi Taman Sari ini. Dan akulah Si Lelaki Cemara.
“Kau berkata hal yang sama setiap hari. Tetapi kenyataan tetap serupa bayangan.”
“Tidak, kali ini aku tidak boleh tetidur. Aku tidak boleh melewatkan senja yang indah. Aku akan ingat selamanya.”
“Berjanjilah, bawa anak kita menikmati kembali Taman Sari ini.” Istriku mengecup mesra keningku. Lalu kita saling tersenyum.

Taman Sari, 28 November 2012
Lihat ! Aku berhasil membawa mereka kembali. Sungguh kekupu itu telah menjadi Burung Dara. Senyumnya mengepakan kesejukan. Sungguh aku mensyukuri semua ini. Maaf, Aku belum mampu menjadi Cemara yang meneduhkan Taman Sari ini. Aku rindu kalian, aku ingat kalian.
“Ayo masuk, ini sudah senja. Nikmatilah taman ini bersama kenangan ayahmu. Sebelum pagi esok, kau tidak akan menatap wajah ayah dan ceritanya lagi. Panjatkan doa, semoga Hyang Widhi menuntun surganya.” Kata istriku, sembari mengusap airmata.
Hei! Aku sudah ingat ! Kita sudah berkumpul kembali. Di Taman Sari tempat kesayangan kita. Aku sudah ingat sewaktu kita berkeliaran menangkap cahaya kunang – kunang. Hei ! jangan diam aku masih hidup!
“Sayang, kau telah menepati janjimu. Kekupu itu telah kembali pada tamannya. Walau dengan cara yang tidak tepat. Kita sudah berkumpul walau diwaktu yang salah, serta dalam keadaan yang berbeda. Pergilah, ceritakan Taman Sari ini untuk penjaga surga.”

Taman Sari mewangi, dalam sejuk senja..
Dan cerita..
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar