Hanya
musim yang menyemai ruah bisu
Kemudian
menyusup rindu
Yang mengganas
Dengan
warna jingga disekitar rambut gimbal
Mengguyur
haus
Mengusung
rerimbun kasih
Dalam dalam
Buntar,
Masihkah
kau menjadi lelakut?
Yang bergantungan di antara pohon
kamboja?
Aku
masih memandangimu
Ketika
daun talas tak mampu lagi menampung bulir air
Pun
dongeng tak bisa menina bobokan anak pesisir
Aku
masih menyentuhmu
Dalam bayangan
Kemudian
diamdiam malam mengajakku menyusu duka
Menusuk
ruh semesta
Yang
terurai
Di
bias purnama
Buntar,
Lihatlah
bintang yang mengupas derit malam
Seperti
ceritamu
Ia
serupa wajah penyair agung
Yang
selalu kau cinta
Masih
ada sisa air mata,
Untuk
rindu yang tertahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar