Senin, 29 April 2013

Buntar - hadiah yang terlupa


Hanya musim yang menyemai ruah bisu
Kemudian menyusup rindu
            Yang mengganas
Dengan warna jingga disekitar rambut gimbal
Mengguyur haus
Mengusung rerimbun kasih
            Dalam dalam

Buntar,
Masihkah kau menjadi lelakut?
            Yang bergantungan di antara pohon kamboja?

Aku masih memandangimu
Ketika daun talas tak mampu lagi menampung bulir air
Pun dongeng tak bisa menina bobokan anak pesisir

Aku masih menyentuhmu
            Dalam bayangan
Kemudian diamdiam malam mengajakku menyusu duka
Menusuk ruh semesta
Yang terurai
Di bias purnama

Buntar,
Lihatlah bintang yang mengupas derit malam
Seperti ceritamu
Ia serupa wajah penyair agung
Yang selalu kau cinta

Masih ada sisa air mata,
Untuk rindu yang tertahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar