Senin, 29 April 2013

MEMBUKA CATATAN YANG DILUMPUHKAN


          Kemelut orde baru banyak menuai polemik. Masa tersebut merupakan pergulatan rakyat terhadap kaum elit yang mencekik. Berbagai peristiwa dramatis itu rupanya melahirkan aktor yang menjadi penggerak sepenanggungannya, “Wiji Thukul” salah satunya.  Karakteristik Wiji Thukul  memengaruhi pergerakan dari kalangan rakyat bawah di dalam pertentangan melawan ketidakadilan. Sosok Wiji Widodo, atau yang akrab kita kenal Wiji Thukul  merupakan sastrawan pada masa orde baru. Beliau kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 tersebut, mulai menulis puisi sejak SD. Wiji Thukul tertarik pada dunia teater pada saat Beliau belajar di SMP pada tahun 1979, Beliau bergabung dalam Teater Jagat (Jagalan Tengah). Beliau yang berlatar belakang keluarga buruh dan tukang becak bersama kawan-kawan dari Teater Jagat sering keluar masuk kampung mengamen dan membaca puisi dengan iringan berbagai instrumen musik tradisional seperti rebana, gong, suling, kentongan, gitar dan sebagainya. Mereka mengamen tidak hanya di Solo tapi juga di Yogyakarta, Klaten, Bandung hingga Surabaya. Lalu beliau melanjutkan pendidikannya di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari. Namun, karena keterbatasan biaya Wiji Thukul berhenti pada saat duduk di kelas 2. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, ia memiliki tanggung jawab untuk membantu menghidupi keluarga. Melangkahlah ia mencari penghasilan dengan cara menjual koran, lalu bekerja di sebuah perusahaan mebel antik menjadi tukang pelitur. Ketika bekerja sebagai tukang pelitur, Wiji Thukul mulai membuat puisi dan membacakan karyanya di hadapan rekan kerjanya. Pada tahun 1988 Wiji Thukul pernah menjadi wartawan masa kini. Puisi-puisinya diterbitkan dalam media cetak dalam dan luar negeri. Pada tanggal 23 Oktober 1988 Wiji Thukul menikah dengan Sipon rekannya di teater jagat dan dikaruniai dua orang anak, Hitri Nganthi Wani dan Fajar Merah.

             Pertikaian di mulai saat Widji Thukul  membela kaum tertindas pada tahun 1992  dalam demonstrasi memrotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. Pada tahun berikutnya, tahun 1994 Widji Thukul bersama Semsar Siahaan dan Moelyono mendirikan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Menurut Widji Thukul perjuangan politik untuk melawan kediktatoran Soeharto membutuhkan sebuah wadah politik untuk menyatukan kekuatan demokrasi dan merumuskan program bersama. Bagi Thukul “Demokrasi tidak dapat diraih hanya dengan baca puisi, tapi dengan aksi-aksi massa bersama rakyat.” Karena itu, tidak seperti seniman produk Orba yang alergi politik, Thukul justru sangat terlibat aktif dalam perjuangan politik. Untuk menyatukan gerakan dan membuat program bersama lalu memutuskan untuk membentuk suatu organisasi payung yang bernama Persatuan Rakyat Demokratik (PRD).
Hidup di lingkungan buruh membuat Widji Thukul sangat respek dan mendukung perlawanan-perlawanan buruh. Pada bulan Oktober 1994, di Ambarawa, Jawa Tengah, Wiji Thukul menghadiri Kongres pembentukan Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI). Dalam Kongres tersebut ia berbicara tentang pentingnya budaya progresif kerakyatan untuk mengikis sisa-sisa feodal dan membangun kesadaran yang progresif. Demi mendukung aksi 14.000 buruh PT Sritex, ia ditangkap dan dipukuli dengan popor senapan. Mata kirinya terkena popor dan berdarah dan mengalami kebutaan.
Pada bulan April tahun 1996 ia hadir dalam Kongres pembentukan Partai Rakyat Demokratik yang diadakan di Kaliurang, Yogyakarta. Dalam Kongres tersebut juga diambil suatu keputusan organisasi yang penting dimana Jakker, bersama-sama dengan SMID, PPBI dan STN berafiliasi secara organisasi dan politik dengan Partai Rakyat Demokratik. Dalam Deklarasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) 22 Juli 1996, Wiji Thukul membacakan puisinya yang berjudul “peringatan”. Penampilan itu merupakan pembacaan puisi terakhir Wiji Thukul secara terbuka, setelah itu Jakker dijadikan sebagai organisasi terlarang (OT) dan dia sebagai ketuanya menjadi target penangkapan. Setelah para pimpinan PRD ditangkapi dan organisasinya dilarang, mereka bergerak di bawah tanah. Tetapi, Puisi-puisi Thukul masih sempat muncul di majalah bawah tanah PRD Pembebasan dan disebarluaskan melalui internet dan fotokopi-an. Meskipun Widji Thukul tidak terlihat lagi, bait puisinya yang berjudul Peringatan yaitu “hanya ada satu kata, lawan” terus diteriakan dalam berbagai aksi mahasiswa di berbagai kota.
           
 Karya Widji Thukul banyak diapresiasi oleh Negara lain, diantaranya:
1.       Widji Thukul diundang membaca puisi di Kedutaan besar Jerman Jakarta oleh Goethe Institut tahun 1989,
2.      Mengikuti “3rd Asia-Pacific Trainer’s Workshop on Cultural Action” di Korea Selatan pada tahun 1990,
3.      tampil ngamen puisi pada pasar malam puisi di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta pada than 1991.
  1. Memperoleh Wertheim Encourage Award dari Wertheim Stichting, Belanda, bersama budayawan WS Rendra di tahun 1991.
  2. Pada tahun 1992, ia membacakan sajak di beberapa kota di Australia dan dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien Award tahun 2002.

Demikian sosok Wiji Thukul mendapat penghargaan dari negara luar. Namun, di tanah pertiwinya sendiri malah tak digubris. Sungguh disayangkan bunga yang dilumpuhkan di bumi sendiri. Bunga yang tak dikehendaki adanya. Perjuangan yang dilumpuhkan oleh orang – orang pengempu kekuasaan. Ironis. Bila saat ini Wiji Thukul masih bernafas, pasti iya akan menyerukan satu kata : LAWAN !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar